Wednesday, February 21, 2007

Kembali Lagi: SAins Lengkap ReiKarNaSi


Kembali Lagi

Kehidupan tidaklah dimulai dengan kelahiran ataupun berakhir dengan kematian. Apa yang sebenarnya terjadi terhadap sang diri (roh) setelah ia meninggalkan badan? Apakah dia harus menjelma kembali untuk selamanya? Bagaimana sebenarnya reinkarnasi berlangsung?Dengan buku ini, Anda akan menguasai ilmu mengendalikan masa sekarang diri Anda, menentukan masa yang akan datang, serta cara mengubah hidup Anda.
Kembali Lagi:
*** 136 halaman
*** soft cover
*** dihimpun oleh: empat orang hindu dari barat yaitu: Michael Grant, Austin Gordon, Michael Cremo, Jeff Long.
Harga Cuma RP. 18.000
(belum termasuk ongkos kirim)
Daftar Isi:
Usaha mencari kekekalan
Misteri Kesadaran
1. Reinkarnasi: dari Socrates samapi Salinger
2. Berganti badan
3. Riset tentang sang roh
4. Tiga cerita (sejarah) reinkarnasi
5. Perjalanan rahasia yang ditempuh sang roh.
6. Logika reinkarnasi
7. Hampir Reinkarnasi
8. Jangan Kembali lagi
indeks

Monday, February 5, 2007

Srimad Bhagavatam Skanda 3 Jilid 1

Srimad Bhagavatam terdiri atas 12 skanda (buku)
gambar disamping merupakan buku ke tiga dari seri Srimad Bhagavatam.
Bhagavatam terkenal dengan julukan Buah matangnya Pohon Veda. dalam buah itu terdapat segala tujuan pohonnya.

MIliki segera koleksi langka ini:
* Hardcover
* 488 halaman
* 9 gambar berwarna beserta penjelasan
* delapan Bab
*Indeks lengkap
* Arti istilah2 sansekerta


Harga Cuma Rp. 55.000 (blm termasuk ongkos kirim)

Berikut ini judul dan sub judul dari Skanda 3 jilid 1 Srimad Bhagavatam.

BAB SATU
Pertanyaan-Pertanyaan oleh Vidura
Vidura Bertanya kepada Maitreya
Dhrtarastra Menyulut Api untuk Membakar Istana
Para Pandava
Yudhisthira Dikalahkan Dengan Cara yang Curang
dalam Perjudian
Saran-Saran Politik dari Vidura
Vidura Dihina oleh Duryodhana
Vidura Sang Peziarah Suci
Para Yadu Binasa Akibat Nafsu Kekerasan
Vidura Berjumpa dengan Uddhava
Vidura Bertanya kepada Uddhava
Bagaimana Akrura Terjatuh
di Atas Tanda Jejak Kaki Krsna
Bagaimana Arjuna Memuaskan Dewa Siva
Vidura Menyesali Keadaan Dhrtarastra
Mengapa Krsna Menahan Diri,
Tidak Membunuh Para Kuru

Krsna Muncul Demi Para Yadu


BAB DUA
Kenangan tentang Sri Krsna
Masa Kanak-Kanak Uddhava
Perubahan-Perubahan Kebahagiaan Rohani Uddhava
Matahari Dunia Telah Tenggelam
Para Yadu Tidak Mengenal Krsna sebagai Yang Tertinggi
Badan Krsna adalah Hiasan bagi Segala Perhiasan
Kesedihan Para Gopi ketika Krsna Pergi
Perilaku Krsna Menyebabkan Uddhava Bersedih
Menyatunya Sisupala ke dalam Badan Krsna
Putana Dikaruniai Kedudukan sebagai Ibu Krsna
Krsna Dipindahkan ke Rumah Maharaja Nanda
Krsna Bayi Nampak Bagaikan Anak Singa
Ahli Sihir Dibunuh oleh Krsna
Krsna Menikmati Tarian Rasa


BAB TIGA
Kegiatan Sri Krsna di Luar Vrndavana
Kamsa Dibunuh oleh Krsna dan Balarama
Rukmini Dilarikan oleh Krsna
Krsna Menikahi Putri-Putri yang Telah Diculik
Krsna Memamerkan Kekuatan Para Penyembah-Nya
Beban Berat Bumi Disingkirkan
Para Yadu Berselisih di antara Mereka Sendiri
Korban Suci Kuda Yudhisthira
Krsna Menikmati Percintaan Rohani
Para Yadu Mengunjungi Tempat Perziarahan Suci


BAB EMPAT
Vidura Mendatangi Maitreya
Para Yadu Musnah atas Kehendak Krsna
Mata Krsna Kemerah-merahan Bagaikan Matahari Terbit
Uddhava Diberkati Karunia Tertinggi Krsna
Kendati Tak Terlahirkan, Krsna Lahir
Para Penyembah Murni
Tidak Mengalami Penderitaan Material
Nara-Narayana Masih Ada di Himalaya
Para Penyembah adalah Abdi Masyarakat
Vidura Sedih Atas Kepergian Krsna
Krsna Menghilang dari Penglihatan Dunia Material
Uddhava Sampai di Badarikasrama
Para Binatang Yang Iri Hati Tidak Dapat Mengenal Krsna


BAB LIMA
Percakapan Vidura dengan Maitreya
Vidura Puas dalam Kerohanian
Insan-Insan Dermawan Agung
Tuhan Yang Bebas Berdikari dan Tanpa Keinginan
Manusia yang Beradab Haruslah Lahir Dua Kali
Nektar dari Topik-Topik tentang Krsna
Topik-Topik tentang Krsna Satu-Satunya Obat
Orang-Orang Materialistik Dikasihani
oleh Orang-Orang yang Patut Dikasihani
Pelayanan yang Menyeluruh
Vidura Sebelumnya adalah Yamaraja Sang Pengendali
Belas Kasih Tuhan terhadap Energi yang Tertidur
Sumber Cikal-Bakal Entitas Hidup
Fungsi Utama Ego Palsu adalah Ketidakbertuhanan
Pengendali Unsur-Unsur Fisik
Bayangan Kaki-Padma Krsna
Brahma, Visnu dan Mahesvara
Kerajaan Tempat Segala Kenikmatan
Gumpalan-Gumpalan Dosa dalam Bentuk Makanan
Keterlibatan dalam Ikatan Ciptaan Alam Semesta


BAB ENAM
Penciptaan Bentuk Semesta
Tuhan Memasuki Duapuluh Tiga Unsur
Bentuk Semesta yang Mahabesar Terwujud
Keseluruhan Ciptaan Bersandar pada Visnu
Para Dewa Membangun Alam Semesta
Mulut Bentuk Semesta Terwujud
Mata-Nya Terwujud
Telinga-Nya Terwujud
Kulit-Nya Terwujud
Tangan dan Kaki-Nya Terwujud
Hati-Nya Terwujud
Ego-Nya Terwujud
Planet-Planet Terwujud dari Bentuk Semesta
Pengetahuan Veda Terwujud
Pelayanan Terwujud dari Kaki Visnu
Penciptaan Golongan-Golongan Sosial
Pujian Keagungan Krsna dengan Kata-Kata Suci
Potensi Membingungkan Milik Krsna

Sembah Sujud kepada Krsna sebagai Sarana Penyucian


BAB TUJUH
Pertanyaan-Pertanyaan Lebih Lanjut
oleh Vidura
Krsna, Penguasa Segala Energi
Roh yang Suci adalah Kesadaran Murni
Maitreya Tergerak oleh Vidura yang Penasaran
Ketersesatan Makhluk-Makhluk yang Jahat
Lepas dari Keadaan Penderitaan yang Tiada Berbatas
Orang Bodoh Terendah Hidup Santai
Pertanyaan-Pertanyaan oleh Vidura
Pertentangan Antar Ateis Tak Beriman
Guru-Guru Spiritual Murah Hati terhadap Kaum Papa
Para Penyembah Tuhan yang Tanpa Cela

Rsi Maitreya Kekal


BAB DELAPAN
Termanifestasinya Brahma
dari Garbhodakasayi Visnu
Buku Bhagavatam dan Penyembah Bhagavata
Para Resi Agung Bepergian Lewat Sungai Gangga
Kekuatan Kebrahmanaan dari Sikap Memaafkan
Pokok Bahasan Halus tentang Penciptaan
Dewa Brahma Lahir dari Bunga Padma
Roda Kekal di Tangan Visnu
Brahma Mengembangkan Pengetahuan
yang Dibutuhkan
Tuhan Memperlihatkan Kaki-Padma-Nya
Visnu, Pohon yang Berdiri Sendiri
Brahma Berkecenderungan untuk Mencipta

AVATARA: Inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa

Avatara: Inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa
* 32 halaman full colour (warna-warni)
* kertas lux
* Bilingual (dua bahasa english dan indonesia)
* Sederhana mudah dimengerti
* Cocok utk anak anak dan orang dewasa juga
*Gambar disamping bukan gambar cover (tapi merupakan bagian dari gambar cover)

Buku ini memuat penjelasan tentang Dasa avatara plus avatara yang lain yang belum banyak di kenal disertai dengan gambar autentik.

Plus Pengantar bebrabgai jenis avatara seperti: Purusa-avatara, Lila avatara, Guna-avatara, dl


Segera cari di toko terdekat atau hubungi kami:

sms ke 08283645115
email: dvibhuja.bsds@gmail.com

Harga cuma Rp. 15.000 (blm termasuk ongkos kirim)

stock di kami cuma tinggal 20 biji.

Monday, January 29, 2007

Edisi Bhagavad Gita Terlaris


Tersedia Edisi Bhagavad Gita Terlaris Di Dunia

Edisi bahasa indonesia yang mudah di bawa kemana mana.

Anda tidak sempat pergi ke Gramedia?
Kehabisan Stock ?
Atau males keluar rumah?

Tenang. Anda tinggal duduk santai di rumah!
tetap bisa mendapatkan Bhagavad Gita dengan harga sama di toko buku!
***(SUDAH TERMASUK ONgKOS KIRIM)

***Bonus 2 eksemplar majalah.

Buruan pesan. PERSEDIAAN TERBATAS!!!

harga sama dengan di toko RP. 65.000

Seri Vedanta dan Sains (kehidupan dan asal mula jagat raya)

Vedanta and Science Series (no.1)

Tersedia dalam Bahasa Indonesia.
Dua Sutra pertama "Vedanta Sutra" di ulas secara scientific oleh DR. TD Singh

Buku ini merupakan bacaan wajib bagi penggemar Sains dan spiritualitas dari
agama mana pun.

persediaan terbatas.

HARGA Rp. 25.000
(belum termasuk ongkos kirim)

pesan keVaikuntha Shop (08283645115) atau kirim email ke dvibhuja.bsds@gmail.com

SegeRa Terbit Vedanta and Science Series No. 2....

Bukti2 ILmiah ReInKaRnAsI

REINKARNASI :

Pengembaraan Sang Roh dan Bukti Ilmiahnya

Dr. Made Wardhana Sp.KK

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Pendahuluan

Istilah reinkarnasi atau dalam samsara bukanlah milik Hindu atau peradaban timur, namun kata tersebut sudah dikenal didunia barat. Telah banyak sarjana barat yang berhasil mengungkapkan kebenaran reinkarnasi secara metode ilmiah, seperti juga dalam penelitian ilmu jiwa. Walaupun seorang ahli ilmu jiwa tidak dapat mengetahui seperti apa jiwa itu, dimana tempatnya, namun dapat memahami gejala-gejala jiwa itu secara ilmiah. Oleh karena itu ilmu jiwa dapat dimasukkan kedalam cabang ilmu pengetahuan modern dan diajarkan di universitas. Bagaimana dengan Sang Roh ?, orang yang percaya kepada Tuhan sebagai Maha Pencipta pasti percaya adanya roh, merupakan enersi rohani yang menyebabkan mahluk hidup dapat melakukan aktivitasnya, begitu sang roh meninggalkan badan maka disebut mati. Reinkarnasi adalah suatu perjalannan panjang dan misterius dari sang roh dari badan satu ke badan lainnya. Roh itu bersifat kekal, oleh karena itulah hidup ini sebenarnya adalah kekal, bukan dimulai saat lahir dan berakhir saat meninggal dunia. Kini banyak sarjana yang telah membuktikan secara ilmiah bahwa ada kehidupan sebelumnya dan ada kehidupan setelah mati.

Dalam kitab suci Bhagawadgita dan Bhagavata Purana menjelaskan secara panjang lebar dan lugas tentang sang roh serta pengembaraannya dari satu badan ke badan lain, ”informasi tentang reinkarnasi tidak akan didapatkan dalam literatur manapun didunia ini, peradaban veda adalah peradaban yang tertua dan masih eksis sampai saat ini, veda memberikan informasi yang lengkap tentang rahasia alam semesta .... ” demikian kata Stephen Knapp dalam sebuah bukunya. Dalam kedua kitab suci tersebut maupun dalam purana purana lainnya menyatakan bahwa kehidupan tidak dimulai pada saat kelahiran atau berakhir saat kematian. Kehidupan itu abadi. Badan material yang selalu berganti, badan material ini bersifat sementara, namun sang diri sebenarnya adalah sang roh, yang bersifat kekal. Sang roh terus menerus berpindah dari satu badan ke badan lainnya sesuai dengan kesadaran dan perbuatannya (karma bandana) masing-masing. Lebih jauh weda menjelaskan bahwa sang roh di dunia material berpindah-pindah melalui siklus 8,400,000 bentuk kehidupan (spesies), dari kehidupan yang paling sederhana yaitu mahluk bersel satu, tumbuh-tumbuhan, hewan sampai bentuk manusia atau dewa. Bentuk manusia meruapakan satu-satunya kelahiran yang dapat menyediakan kesempatan bagi seseorang untuk kesempurnaan hidup diberikan kesadaran yang lebih sempurna dari pada mahluk hidup lainnya, dapat memahami jati diri kita serta mengerti bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah bebas dari proses lingkaran kelahiran dan kematian. Sayangnya tidak ada lembaga pendidikan modern yang memberikan mata pelajaran tentang sang roh dan gejala-gejala keabadiannya.

Jati Diri Kita Sebenarnya.

Proses reinkarnasi adalah suatu proses transmigrasi sang roh dari satu badan ke badan lainnya secara alamiah yang bersifat transedental (rohani) yang tidak mungkin dapat diobservasi oleh alat observasi milik manusia (indra-indra) yang bersifat duniawi. Untuk menegtahui proses tersebut, hendaknya kita memahami lebih dahulu tentang sang roh sebagai jati diri kita yang sebenarnya. Dalam bab 2 dari Bhagavadgita telah diungkapkan siapa jati diri kita sebenarnya. Untuk diketahui bahwa Bhagvadgita adalah dialog antara Sri Krishna sebagai perwujudan personalitas tertinggi, Tuhan dengan ksatria Arjuna karena kebingungan dalam melaksanakan kewajibannya sebagai ksatria. Dialog tersebut terjadi sekitar 5010 tahun yang lalu ditanah Bharatawarsa yang kini disebut India. Telah banyak bukti ilmiah tentang peradaban veda tersebut, sehingga dialog tersebut dalam perang besar Bharata yudha adalah fakta sejarah.

Dalam sastra veda telah berulang kali disebutkan bahwa kita ini adalah adalah Roh (aham brahma asmi), kita bukan badan, dan dijelaskan secara lebih rinci tentang sifat sang roh yang abadi, tidak bisa dibunuh dengan cara apapun, sang roh dapat berpindah dari satu badan ke badan lainnya seperti halnya kita memakai baju, menanggalkan baju yang lama dan mengganti dengan baju baru. Dalam Bhgavadgita, Personalitas Tertinggi, Sri Krishna menyatakan : mamaivamso jiva-loke jiva-bhutah sanatanah manah-sasthanindriyani prakrti sthani karsati yang berarti Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran. (Bg. 15.7). Dalam gita bab 2 telah dijelaskan tentang sang roh, bahwa sang roh tidak dapat terbunuh dengan apapun, tidak diciptakan dimasa lalu, masa kini maupun masa yang akan datang. Seperti halnya menggati baju yang lama dengan baju yang baru seperti itulah proses perjalanan sang roh. Roh merupakan tenaga internal, tenaga transedental (astarangga sakti) dari sang roh yang berukuran sepersepuluh ribu dari ujung rambut dan terletak di daerah jantung. Demikian rincinya ulasan tentang sang roh.

Badan jasmani diuraikan sebagai tenaga material Tuhan (Bahirangga sakti) yang terdiri dari ”bhumir apo ‘nalo vayuh kham mano bhudir eva ca ahankara itiyam me bhinna praktir astadha” - Tanah, air, api, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku.(Bg. 7.4). Lima unsur pertama tadi disebut panca maha bhuta yang terdiri dari tanah, air, api, udara dan ether, tiga terakhir disebut tripremana sebagai badan halus yaitu terdiri dari manah(pikiran), budhi(kecerdasan) dan ahangkara(keakuan palsu) membentuk kesadaran seseorang yang akan mengawal dan menyertai sang roh dalam proses perpindahan badan.

Sebenarnya konsep tentang manusia seperti tersebut diatas sesuai dengan konsep postmodern yang menyebutkan tiga entitas yaitu corpus, animus, dan spiritus. Corpus (atau corporeus)—yang ditransliterasi menjadi corporeal (terkadang corporal)—adalah material yang terdiri atas matter (materi mati) serta memiliki dimensi fisik (physical). Ia merupakan satu aspek badaniah dari manusia (body atau tubuh) yang berbeda dengan spiritus (spirit atau ruh) dan animus (soul atau jiwa). Corpus juga digunakan juga secara sinonim dengan material object juga sering dipakai untuk menunjukkan komposisi material manusia (atau binatang).

Pengembaraan Sang Roh

Setelah mengetahui tentang sang roh maka, topik berikutnya adalah bagaimana sang roh mendapatkan badan-badan material yang baru, kenapa ada badan orang cantik, sehat, dilahirkan dalam keluarga kaya atau terhormat, kenapa pula ada badan orang yang cacat, sakit-sakitan, dilahirkan dalam keluarga yang sangat menderita, bahkan badan-badan hewan, pengetahuan tentang hal tersebut bersifat transedental – dengan singkat ” itu rahasia Tuhan”. Itulah wilayah-wilayah yang tidak dapat di fenetrasi oleh kemampuan manusia. Dalam gita menyatakan ”sarram yad avapnoti yac capy uthramatisvarah grhitvaitani samyati vayur gadhan ivasayat” -- Mahluk hidup pindah dari satu badan ke badan lainnya dengan membawa kesadaran masing-masing, seperti udara yang membawa jenis bau-bauan tertentu. Berdasarkan kesadaran demikian mahluk hidup meninggalkan badan dan menerima badan baru yang lain. (Bg 15.8). Srila Prabhupada seorang acarya besar dan guru kerohanian dari Brahma-Vaisnava Sampradaya, parama guru spiritual kami menguraikan secara panjang lebar dan jelas tentang sloka ini. Pengetahuan tentang reinkarnasi secara lengkap dan sempurna telah dijelaskan dalam berbagai sastra weda, dan selalu mengutip sloka dari Purana dibawah ini bila berbicara mengenai perjalanan sang roh dan karma, seperti berikut ini:

asitim caturas caiva laksams tan iva-jatisu bhramadbhih purusaih prapyam manusyam janma paryayat tad apy aphalatam jatah tesam atmabhimaninam

varakanam anasritya govinda-carana-dvayam

"Seseorang mencapai bentuk kehidupan manusia setelah bertransmigrasi melalaui 8.400.000 spesies kehidupan dengan proses evolusi gradual. Bahwa bentuk kehidupan manusia merosot menjadi orang bodoh yang angkuh karena tidak mau berlindung di kaki padma Govinda." (Brahma-vaivarta Purana). Dalam Padma Purana juga menyatakan ; "Ada 900.000 spesies kehidupan di air; 2.000.000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan; 1.100.000 spesies serangga; 1.000.000 spesies kehidupan burung; 3.000.000 spesies binatang buas; dan 400.000 spesies kehidupan manusia."

Proses perkembangan dan perjalanan sang roh melalui 8.400.000 spesies, yang telah berlangsung sejak waktu berabad-abad yang lalu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jiwa (roh) tidak pernah mati dan tidak dilahirkan; sang roh adalah kekal. Sang roh bertransmigrasi dari satu badan ke badan lain. Hukum Tuhan tersebut berlaku untuk siapa saja, tanpa kecuali. Proses penciptaan alam semesta beserta isinya telah dijelaskan dalam Bhagavata purana. Spesies-spesies mahluk hidup telah diciptakan sangat kompleks dan sempurna sesuai dengan tingkat kesadarannya dan karmanya. Oleh karena itu teori evolusi sudah semakin lemah secara ilmiah dan sangat berbahaya karena akan mengembangkan paham atheis yang tidak mengakui proses penciptaan.

Ketika sang roh mendapat badan manusia, lupa akan jati dirinya, lupa akan hubungannya dengan Tuhan kemudian menjadi sangat terikat dengan kegiatan dunuawi, pada akhirnya kesadaran yang sesungguhnya menjadi sirna, dan pada saat sang roh meninggalkan badan (meninggal) kelak akan mendapatkan badan lain berdasarkan keinginan dan kesadaran yang telah dia kembangkan. Personalitas Tertinggi, Sri Krsna mengatakan: "Keadaan apapun yang diingat seseorang pada saat sang meninggal, keadaan itulah yang akan dicapai." (Bhagavadgita 8.5). Kematian adalah bukanlah berakhirnya kehidupan tetapi terminal untuk mendapatkan badan-badan baru, badan baru yang bagaimanakah yang akan didapat, sangat tergantung pikiran pada saat sang roh meninggalkan badan, demikian juga ikatan-ikatan karma dimasa kehidupan lalu sangat mempengaruhi badan-badan jasmani yang akan didapat. Apakah badan tampan, sehat atau badan dengan penyakit kusta, epilepsi, sakit jiwa atau cacat fisik lainnya bahkan badan yang lebih rendah seperti hewan. Selama pikiran dan aktivitas manusia masih terikat dengan dengan duniawi, memuaskan indria maka selamanya akan ikut dalam arus kelahiran dan kematian. Oleh karena itu dikatakan dalam sastra bahwa didunia material apapun kedudukannya adalah penderitaan karena kelahiran dan kematian akan dialami berulang kali. Tujuan yang sesungguhnya dari kehidupan manusia adalah untuk melepaskan diri dari lingkaran reinkarnasi tersebut atau kembali pulang kerumah yang sejati, kekal di planet rohani yang disebut Goloka Vrindavan sebagai pelayan kekal Tuhan (nitya sidha).

Kalau memahami proses reinkarnasi tersebut, maka mudah dimengerti bahwa badan-badan yang kita dapatkan sekarang merupakan hadian yang paling adil dan paling tepat dari apa karma pada kehidupan masa lalu dan kesadaran saat ini akan mempersiapkan badan untuk kehidupan yang akan datang. Bila kita mengembangkan kesadaran yang sesungguhnya yaitu kesadaran tentang jati diri kita maka akan mendapatkan badan-badan yang lebih tinggi. Inilah evolusi dari badan material lebih rendah ke ke badan material lebih tinggi dan akhirnya mencapai badan rohani yang kekal untuk menempati dunia rohani. Tetapi sebaliknya bila kesadaran kita merosot, sangat terikat dengan kepuasan indria-indria, maka akan mendapatkan badan yang lebih rendah, badan yang cacat, berpenyakitan, bahkan lebih rendah lagi. Hal ini merupakan human devolution, terjadi kemerosotan pada tingkat spiritual.

Bukti Kehidupan Masa Lalu

Beberapa bukti ilmiah tentang adanya reinkarnasi telah diungkapkan oleh beberapa peneliti dengan berbagai metode pendekatan ilmiah. Beberapa buku seperti Children Past Lives, Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, Where Reincarnation and Biologiy Intersect, memperkenalkan hasil penelitian Dr. Ian Stevenson, dari Universitas Virginia, Amerika, tentang bukti-bukti yang berhubungan dengan adanya kehidupan masa lalu dan reinkarnasi. Demikian juga website diinternet tentang reinkarnasi sangat banyak dijumpai yang menyediakan informasi tentang kehidupan masa lalu dan reinkarnasi. Reinkarnasi dalam pengertian hukum positip sulit dibuktikan sebagai suatu kenyataan ingatan kehidupan masa lalu, karena kemampuan daya ingat otak manusia sangat terbatas. Namun dalam keadaan tertentu, tanpa disadari atau terjadi perubahan kesadaran maka ingatan dibawah sadar tersebut akan muncul kepermukaan, dan dapat menguraikan dengan jelas tentang pengalaman-pengalaman pada kehidupan sebelumnya. Buku buku diatas telah mencatat kasus kasus kehidupan masa lalu seseorang, terutama pada anak-anak dibawah tiga tahun. Dalam keadaan hinotis dimana kesadarannya menurun namun dapat mengungkapkan secara terperinci pengalaman-pengalaman kehidupan masa lalunya. Kemudian cerita yang diungkapkan tersebut dilakukan cross check dengan menelusuri, nama tempat tahun atai alibi-alibi lainnya, ternyata banyak benarnya. Ian Stevenson telah meneliti lebih dari duaribuan anak dari berbagai belahan dunia.

Salah satu kasus yang paling bagus pembuktian kebenarannya yaitu seorang gadis muda dari India bernama Shanti Devi, yang tinggal di Delhi (lahir tahun 1926) yang pada umur tiga tahun mulai mengingat dan bercerita tentang hal-hal dari kehidupan masa lalu di kota Muttra yang jauhnya delapan puluh mil. Dia mengatakan bahwa dia telah menikahi seorang saudagar kain, melahirkan seorang anak laki-laki dan meninggal dunia sepuluh tahun kemudian, dan banyak pernyataan yang diceritakan secara detail tentang kehidupan masa lalunya sampai ia berumur 9 tahun. Pernyataan-pernyataan itu direkam. Suatu komisi dibentuk untuk merencanakan dan menyaksikan kunjungannya ke Muttra, tempat keluarga yang sering disebut oleh Shanti Devi, dan menyaksikan bahwa ia benar-benar mengenali sanak saudaranya yang lain dimasa lalu, mengetahui dengan detail jalan kerumahnya yang dahulu dikenalinya, dan bahkan mengungkapkan bahwa ada uang yang disembunyikannya di dalam rumah tersebut. Tempat persembunyiannya ditemukan dan bekas suaminya mengakui dia telah memindahkan uang tersebut. Jadi apa yang diceritakan oleh Shanti Devi itu memang benar-benar nyata. Demikian juga cacat fisik, tanda lahir yang terjadi sangat berhubungan kehidupan masa launya. Demikian juga kelainan-kelainan keperibadian sebagai contoh, seseorang sangat takut dengan air sungai, ternyata pada kehidupan masa lalunya orang tersebut meninggal karena tenggelam. Demikian juga dengan penyakit-penyakit yang diderita saat ini tidak lepas dari karma pada kehidupan yang lalu. Dalam Garuda Purana dan Padma Purana memberikan penjelasan yang sangat rinci tentang hal tersebut seperti, seorang penderita epilepsi dikatakan pada pada kehidupan yang lalu ia adalah seorang yang perkasa, kuat, tetapi kekuatannya tersebut digunakan untuk mencederai orang lain sehingga ia diberikan badan epilepsi. Demikian juga dengan penyakit kusta, penyakit paru-paru, dan sebagainya diungkapkan dengan jelas dalam purana tersebut. Walaupun secara ilmu kedokteran modern telah menemukan patogenesis penyakit sampai pada biomolekuler, ketahui terjadi mutasi pada kromosom tertentu sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik atau terjadinya penyakit. Telah dibuatkan peta kelainan kromosom tersebut secara rinci, namun pertanyaan yang mendasar yang tidak akan pernah dijawab adalah ; siapakah yang melakukan mutasi tersebut, kenapa hanya pada orang-orang tertentu saja terjadi mutasi tersebut ?. Kita serahkan jawabannya kepada The Grand Designer, Omnipower, Omniscient, Personalitas Tuhan.

Banyak lagi ilmuwan barat yang telah membuktikan melalui pengamatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah adanya kehidupan setelah kematian. Raymond A Moody adalah salah satu diantara banyak ilmuwan yang tekun meneliti reinkarnasi dalam bukunya yang berjudul ” Life after life”. Buku tersebut menceritakan banyak pengalaman seseorang pada saat menjelang kematian (near-death experience).

Richard Webster telah menyusun suatu pedoman untuk mengetahui adalanya ingatan kehidupan masa lalu (past-life memories) yang cukup akurat digunakan. Ada bermacam-macam metode digunakan untuk mengetahui adalah past-life memories, seperti contoh dibawah ini :

Ingatan Yang Bersifat Spontan.

Khususnya anak-anak dibawah 3 tahun, ingatan muncul begitu saja tanpa diketahui asal-usulnya. Beberapa orang menggambarkan proses tersebut sebagai mimpi berjalan. Bayang-bayang dan suasana dapat muncul dalam ingatan dan subyeknya, kadangkala dapat merasakan bahwa mereka sendiri adalah bagian dari ingatan tersebut. Meskipun sering kali mereka melaporkan suatu perasaan yang berbeda dalam kenangan tersebut dari diri mereka sendiri.

Ingatan Yang Dipicu (Triggered recall)

Ingatan dialami dengan cara yang sama seperti diatas, namun dipicu oleh suatu peristiwa. Peristiwa tersebut bisa apa saja yang tampaknya mengingatkan seseorang akan sesuatu bagian yang penting dari ingatannya itu – contohnya bau yang khusus, penglihatan akan suatu obyek, suara ribut, mendengar sebuah kata atau kalimat yang khusus, rasa atau berada dalam suatu keadaan fisik yang khusus. Hal-hal tersebut dapat mengingatkan seseorang akan pengalaman masa lalu diluar kehidupan saat ini.

Melalui Mimpi.

Seseorang sering kali mendapatkan mimpi berulang-ulang yang sama sekali tidak tampak seperti jenis mimpi biasa, atau bermimpi yang diluar pengalaman hidupn saat ini, dan kadang mimpi itu berkelanjutan. Mimpi adalah munculnya ingatan-ingatan kehidupan masa lalu dari bawah sadar.

Hipnosis

Hipnotis telah digunakan selama beberapa dekade sebagai suatu alat untuk mencoba menemukan ingatan-ingatan kehidupan di masa lalu atau pengalaman diluar badan. Meskipun metode hipnotis telah mulai dikembangakan sejak sekurang-kurangnya 150 tahun, namun sedikit yang dipahami tentang proses aktual dimana orang dapat dihipnotis. Pengaruh hipnotis menyebabkan subyeknya berada dalam suatu suasana tidak sadarkan diri. Keuntungan dari metode ini sedikit demi sedikit mengumpulkan ingatan-ingatan yang jauh ini, yakni bahwa pikiran dari subyek tersebut dapat dibuat terfokus dengan tajam dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hipnotis digunakan untuk bermacam-macam tujuan seperti untuk menyidik suatu peristiwa dengan sedikit demi sedikit mencoba mengumpulkan potongan-potongan informasi.

Meditasi Yang Mendalam.

Menditasi yang mendalam dikatakan dapat memberikan ingatan-ingatan yang bersifat spontan kepada subyeknya yang tampaknya berasal dari kehidupan-kehidupan masa lalu. Sekali mencapai keadaan meditasi yang mendalam, dampaknya sama seperti dihipnotis, terkecuali bahwa tidak adanya pengaruh eksternal yang kuat terhadap subyeknya. Setelah mengatakan hal ini, orang-orang yang mengalami kilas-balik sehubungan dengan kehidupan masa lalu atau ingatan-ingatan yang bersifat sebentar sering kali mendapatkan permulaan yang bagus di bidang ini, dan dapat memperoleh hasilnya dengan cepat jika mereka tekun.

Banyak lagi cara-cara lain yang diakui sebagai upaya untuk memunculkan ingatan masa lalunya yang keluar dari alam bawah sadarnya. Seperti dalam sastra mengatakan bahwa, pada saat badan kasar hancur (mati), sang roh meninggalkan badan selalu bersamaan dengan badan halus : pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu, berdasarkan pikirannya itulah sang roh akan mendapatkan badan berikutnya. Dalam majalah neuroscience diketahui bahwa walapun otak telah mati, tetapi pikiran masih tetap eksis. Dengan demikian reinkarnasi akan selalu terjadi, tidak ada metode lain untuk keluar dari lingkaran reinkarnasi tersebut kecuali apa yang disabdakan Sri Krishna kepada Arjuna ” janma karma ca me divyam evam yo vetti tattvatah tyakta devam punar janma naiti mam eti so ‘rjuna. - Orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran dan kegiatanKu, tidak akan lahir lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal.(Bg 4.9). Itulah anjuran dari seorang Super Konselor (Sri Krishna) dalri buku Super Science karena bersumber dari Personalitas Yang Sempurna, Sang Penguasa Ilmu Pengatahuan, dan ditulis kembali oleh seorang yang telah mencapai kesempurnaan, seorang tri kala jna, yang mengetahui masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, beliaulah Srila Vyasa Deva, penyusun utama kompendium veda. Dari beliaulah atau dari murid-murid beliau yang dukuasakan kita dapat mempelajari pengetahuan spiritual tersebut, bukan dari hasil spekulasi atau tafsiran-tafsiran.

Jadi Reinkarnasi adalah pengetahuan tentang perjalanan panjang dan misterius dari sang roh, sang jati diri yang sebenarnya dengan kesadaran murni, keakuan yang asli. Walaupun pengetahuan tersebut telah diajarkan sekitar lima ribu tahun yang lalu, bahkan jutaaan tahun yang lalu sudah ada, namun keraguan tentang adanya reinkarnasi telah mulai sirna dengan penelitian-penelitian para ilmuwan yang dapat membuktikan secara ilmiah bahwa ada kehidupan lain sebelum dilahirkan dan akan ada kehidupan lain setelah mati.

Refferences

1. Damodara, BS. 1996. The Scientific Basis of Krishna Consciousness. The Bhaktivedanta Book Trust, Mumbai, India:

2. Damodara , BS. 1988. The Principle of Reincarnation in Consciousness The Missing Link. The Bhaktivedanta Book Trust. Mumbai, India. P. 57-68

3. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavadgita Menurut Aslinya (terjemahan)

4. S Bhaktivedanta Swami Prabhupada . Srimad Bhagavatam. Terjemahan

5. Stevenson I. 1997. Where Reincarnation and Biologiy Intersect. Praeger Publisher. London

6. Stevenson I. 1974. Twenty Cases Suggestive of Reincarnation. University Press of Virginia, Charlottesville. P

7. Moody RA. 1975. Life After Life. Mockingbird Book, Georgia.

8. Webster R. 2001. Past-life Memories: Twelve Proven Methods. Llewellyn Publications. St. Paul, Minnesota.

9. Steiger B. 1996. You Will Live Again.Blue Dolphin Publishing. Grass Valley.

10. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1995. A Second Change : The Story of a Near-Death Experience. Bhaktivedanta Book Trust. Mumbai, India.

11. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1995. Life Comes From Life. Bhaktivedanta Book Trust. Mumbai, India.

12. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1984. Coming Back: The Science of Reincarnation. Bhaktivedanta Book Trust. Mumbai, India.

13. Haraldsson E. 2000. Birth Mark And Claims of Previous-life Memories : I. The Case of Purnima Ekanayake. J of Society for Psychical Res 64/1 : 16-25.

14. Rivas T. 2003. Three Cases of The Reincarnation Type in The Nederlands. J of Scientific Exploration 17/3: 527-532.

Mnegenal vegetarian

Vegetarianisme:

Suatu Metode ke arah Pencapaian Yang Lebih Tinggi.

(oleh Adiraja dasa, dari buku The Hare Krishna Book of Vegetarian Cooking)

Kata vegetarian, yang diciptakan oleh para pendiri British Vegetarian Society pada tahun 1842, berasal dari kata Latin ‘vegetus’ yang berarti “semangat, sehat, segar, hidup,” sebagaimana dalam ‘homo vegetus’ – seorang yang penuh semangat secara fisik dan mental. Makna asli kata tersebut secara tidak langsung menyatakan suatu pengertian kehidupan filosofi dan moral yang seimbang, lebih dari hanya sekedar suatu menu sayur-sayuran dan buah-buahan.

Hampir semua vegetarian adalah orang-orang yang telah memahami bahwa dalam memberikan kontribusi terhadap suatu masyarakat yang lebih damai, mula-mula kita harus menyelesaikan permasalahan kekerasan di dalam hati kita. Jadi tidak mengherankan bahwa beribu-ribu orang dengan berbagai statusnya, dalam pencarian mereka akan kebenaran, telah menjadi vegetarian. Vegetarianisme merupakan suatu langkah penting ke arah masyarakat yang lebih baik, dan mereka yang mempertimbangkan keuntungan-keuntungannya akan berada dalam kelompok para pemikir seperti Pytagoras, Socrates, Plato, Clement of Alexandria, Plutarch, King Asoka, Leonardo da Vinci, Montaigne, Akbar, John Milton, Sir Issac Newton, Emanuel Swedenbourg, Voltaire, Benjamin Franklin, Jean Jacques Rousseau, Lamartine, Percy Bysshe Shelley, Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, Leo Tolstoy, George Bernard Shaw, Rabindranath Tagore, Mahatma Gandhi, Albert Schweitzer, dan Albert Einstein.

Marilah kita simak beberapa keuntungan menjadi vegetarian.

Kesehatan dan Nutrisi

Dapatkah suatu menu vegetarian memperbaiki atau mengembalikan kesehatan? Dapatkah mencegah penyakit-penyakit tertentu? Para penasihat vegetarianisme telah mengiyakan hal tersebut selama bertahun-tahun, meskipun mereka pada saat itu tidak mempunyai dukungan ilmu pengetahuan modern seperti sekarang ini. Sekarang ini, riset-riset medis telah menemukan bukti tentang suatu hubungan mata-rantai antara menyantap daging dan pembunuh seperti penyakit jantung dan kanker, dengan demikian mereka memberikan pandangan yang lain sehubungan dengan vegetarianisme.

Sejak tahun 1960-an, para ilmuwan telah menduga bahwa suatu menu yang terdiri dari daging bagiamanapun juga berkaitan dengan perkembangan arterioscleroris dan penyakit jantung. Pada awal 1961, Majalah ‘American Medical Association’ mengatakan: “Sembilan puluh sampai sembilan puluh sembilan persen penyakit jantung dapat dicegah dengan diet vegetarian. “ sejak saat itu, studi-studi yang teroganisir dengan baik secara ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa selain tembakau dan alkohol, konsumsi daging adalah penyebab tunggal yang paling utama terhadap kematian di Western Europe, United States, Australia dan daerah-daerah kaya lainnya di dunia.

Tubuh manusia tidak dapat menerima lemak hewani dan kolesterol dalam jumlah yang berlebihan. Suatu pengumpulan suara terhadap 214 ilmuwan yang melalukakan riset pada arteriosclerosis dalam 23 negara menunjukkan hampir semuanya menyetujui bahwa terdapat suatu hubungan mata-rantai antara diet, tingkatan kolesterol serum, dan penyakit jantung. Ketika seseorang mengkonsumsi kolesterol lebih dari lebih dari yang dibutuhkan tubuh (sebagaimana biasanya yang dilakukan terhadap menu yang terdiri dari daging), kolesterol yang berlebihan tersebut perlahan-lahan menyebabkan masalah. Yang mana berakulumasi pada dinding-dinding arteri bagian dalam, menekan aliran darah ke jantung dan menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.

Di lain pihak, para ilmuwan di University of Milan dan Maggiore Hospital telah menunjukkan bahwa protein sayur-sayuran dapat berfungsi menjaga tingkat kolesterol menjadi rendah. Dalam suatu laporan kepada majalah medis di Inggris, The Lancet, D.C.R. Sirtori menyimpulkan bahwa orang-orang dengan tipe kolesterol tinggi yang berhubungan dengan penyakit jantung “dapat mengambil keuntungan dari suatu menu dimana protein hanya berasal dari sayur-sayuran.”

Bagaimana dengan kanker? Penelitian selama duapuluh tahun terakhir ini sangat mengindikasikan suatu hubungan mata-rantai antara mengkonsumsi daging dengan kanker usus besar, rektum, payudara dan uterus. Jenis kanker-kanker ini jarang terdapat pada mereka yang mengkonsumsi sedikit daging, seperti halnya para pengikut Gereja Advent, orang Jepang, dan orang India, akan tetapi penyakit-penyakit tersebut lazim terdapat pada masyarakat yang mengkonsumsi daging.

Artikel lainnya dalam The Lancet melaporkan, “Orang-orang yang tinggal di wilayah-wilayah dengan gejala carcinoma (tumor) usus besar yang tercatat tinggi cenderung hidup dari makanan yang banyak mengandung lemak dan protein hewani; sedangkan mereka yang tinggal di wilayah-wilayah yang gejalanya rendah sebagian besar hidup dari makanan vegetarian dengan kadar lemak yang rendah atau bahan hewani.”

Rollo Russel, dalam komentarnya pada ‘Caution of Cancer’ (Peringatan akan Kanker) mengatakan, “Saya telah menemukan bahwa dari duapuluh lima negara yang umumnya mengkonsumsi daging, sembilan belas darinya memiliki tingkat penyakit kanker yang tinggi dan hanya satu negara yang memiliki tingkat yang rendah, dan dari tigapuluh lima negara yang mengkonsumsi daging atau sama sekali tidak, tidak satupun yang memiliki tingkat yang tinggi.”

Mengapa mereka yang menkonsumsi daging nampaknya lebih mudah mendapat penyakit-penyakit tersebut? Satu alasan yang diberikan oleh para ahli biologi dan ahli nutrisi yakni bahwa sistem pencernaan manusia sebetulnya tidak cocok untuk mencerna daging.

Binatang pemakan daging memiliki sistem pencernaan yang pendek (tiga kali panjang tubuhnya), sehingga dengan segera mengeluarkan daging yang cepat busuk yang mana menghasilkan racun dari tubuhnya. Oleh karena makanan dari tumbuhan lebih lambat membusuk dibandingkan dengan daging, pemakan tumbuhan memiliki pencernaan setidaknya enam kali panjang tubuhnya. Dari jenis herbivora, manusia memiliki sistem pencernaan yang (paling?) panjang, sehingga jika mengkonsumsi daging, racun-racun dapat menumpuk berlebihan di ginjal dan menyebabkan encok, artritis, reumatik, dan bahkan kanker.

Dan disamping itu terdapat bahan-bahan kimia yang ditambahkan ke dalam daging. Saat seekor binatang disembelih, dagingnya mulai membusuk, dan setelah beberapa hari menjadi berwarna hijau keabu-abuan dan berpenyakit. Perusahaan daging menutupi perubahan warna tersebut dengan menambahkan nitrite, nitrate, dan pengawet lainnya untuk membuat daging tersebut berwarna merah terang. Akan tetapi riset saat ini telah membuktikan bahwa banyak dari pengawet tersebut mengandung carcinogenic (zat penyebab kanker). Dan yang memperburuk adalah pemberian bahan-bahan kimia dalam jumlah banyak kepada hewan ternak.

Gary dan Steven Null, dalam buku mereka ‘Poison in Your Body’, menunjukkan kepada kita akan sesuatu yang mengharuskan setiap orang berpikir dua kali sebelum membeli ‘steak’ atau ‘ham’. “Binatang yang dipelihara dan digemukkan dengan pemberian obat-obat penenang, hormon, antibiotik, 2,700 jenis obat-obatan lainnya. Bahkan proses tersebut dimulai sebelum kelahiran dan terus berlanjut dalam waktu yang lama setelah kematian.

Meskipun obat-obatan tersebut tetap akan ada di dalam daging ketika anda menyantapnya, undang-undang tidak mengharuskan supaya dituliskan pada bungkusannya.”

Oleh karena temuan-temuan seperti ini, American National Academy of Sciences pada tahun 1983 melaporkan bahwa “Orang dapat mencegah banyak jenis kanker yang umum dengan mengkonsumsi makanan yang kurang mengandung lemak dan lebih banyak mengandung sayur-sayuran dan padi-padian.”

Tetapi tungggu dulu! Tidakkah manusia diciptakan sebagai pemakan daging? Bukankah kita membutuhkan protein hewani?

Jawaban untuk keduanya adalah tidak. Walaupun para sejarawan dan ahli antropologi mengatakan bahwa manusia dalam sejarahnya adalah omnivora, perangkat anatomi kita – gigi, rahang, sistem pencernaan – lebih cocok terhadap makanan bukan daging. American Dietetic Association menyatakan bahwa “Hampir semua umat manusia dalam sejarahnya telah hidup dari makanan vegetarian atau yang menyerupai vegetarian.”

Dan sebagian besar di dunia ini masih hidup dengan cara seperti itu. Bahkan di negara-negara industri terkemuka, kesukaan akan daging berumur tidak lebih dari seratus tahun. Hal ini berawal dengan mobil pendingin dan masyarakat konsumen abad ke-duapuluh.

Tetapi dengan abad ke-duapuluh sekalipun, tubuh manusia belum dapat beradaptasi dengan mengkonsumsi daging. Ilmuwan Swedia terkemukan Karl Von Linne mengatakan, “Struktur manusia, baik eksternal maupun internal, dibandingkan dengan binatang, menunjukkan bahwa makanan dasarnya adalah buah-buahan dan sayuran-sayuran yang padat/berair. Grafik di bawah ini membandingkan anatomi manusia dengan hewan karnivora dan herbivora.

Sehubungan dengan persoalan protein, Dr. Paavo Airola, seorang ahli nutrisi biologi alam, mengatakan: “Rekomendasi resmi sehari-sehari bagi protein telah menurun dari 150 gram yang direkomendasikan duapuluh tahun lalu menjadi hanya 45 gram sekarang ini. Mengapa? Oleh karena riset berskala internasional yang dapat diandalkan telah membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan banyak protein, dan bahwa kebutuhan akan protein yang sebenarnya setiap harinya hanya 30 dan 45 gram.

Protein yang dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan untuk kebutuhan sehari-harinya tidak hanya sia-sia, tetapi sebenarnya dapat membahayakan tubuh dan bahkan berkaitan dengan penyakit-penyakit mematikan seperti kanker dan penyakit jantung. Untuk memperoleh 45 gram protein per hari dari menu anda, anda tidak harus menyantap daging; anda dapat memperolehnya dari menu vegetarian seperti bermacam-macam padi-padian, miju-miju, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan.”

Produk-produk susu, padi-padian, buncis, dan kacang-kacangan merupakan sumber-sumber protein yang padat. Keju, kacang tanah, miju-miju, contohnya mengandung lebih banyak protein per ons daripada hamburger, daging babi, atau daging steak.

Meskipun demikian, para ahli nutrisi menganggap hingga baru-baru ini bahwa hanya daging, ikan, telur dan susu yang memiliki protein yang lengkap (yang mana mengandung delapan jenis asam amino yang tidak diproduksi di dalam tubuh), dan bahwa semua protein nabati tidak lengkap (tidak memiliki satu atau lebih dari zat-zat asam amino tersebut). Akan tetapi riset yang dilakukan pada Karolinska Institute di Swedia dan di Max Planck Institute di Jerman telah membuktikan bahwa kebanyakan sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, dan padi-padian, merupakan sumber-sumber protein yang lengkap. Pada kenyataannya, protein-protein ini lebih mudah dicerna daripada daging – dan lagipula mereka tidak membawa serta racun. Hampir tidak mungkin kekurangan protein jika anda mengkonsumsi makanan alami yang mentah secara cukup. Ingatlah bahwa dunia sayur-sayuran adalah sumber dari semua protein. Para vegetarian mengkonsumsinya ‘secara langsung’ daripada memperolehnya dari ‘pihak ke-dua’ yakni dari hewan pemakan tumbuhan.

Intake protein yang berlebihan bahkan dapat mengurangi energi tubuh. Dalam suatu rangkaian tes daya tahan yang komperatif yang dilaksanakan oleh Dr. Irving Fisher dari Yale University, para vegetarian terbukti dua kali lebih tahan dari mereka yang mengkonsumsi daging. Ketika Dr. Fisher menurunkan konsumsi protein pada mereka yang mamakan daging sebesar duapuluh persen, efisiensi mereka naik sebesar tigapuluh tiga persen. Banyak sekali studi-studi lainnya telah membuktikan bahwa menu vegetarian yang tepat memberikan energi nutrisi yang lebih banyak dari daging. Suatu studi oleh Dr. J. Iotekyo dan V. Kipani pada Brussel University menunjukkan bahwa para vegetarian dapat menunjukkan tes fisik dua sampi tiga kali lebih lama dari para pemakan daging sebelum merasa lelah – dan para vegetarian pulih dari kelelahan tiga kali lebih cepat dari para pemakan daging.

Bidang Ekonomi

Daging memberikan makanan yang sedikit dengan pengeluaran yang banyak. Demi memproduksi daging, padi-padian yang mana dapat menjadi makanan manusia, dijadikan makanan hewan ternak. Menurut informasi yang dihimpun oleh United States Department of Agriculture, lebih dari sembilan puluh persen padi-padian yang diproduksi di Amerika dijadikan makanan hewan ternak – sapi, babi, domba, dan ayam – yang mana semuanya berakhir di meja makan. Sekalipun demikian, proses penggunaan padi-padian untuk memproduksi daging adalah pemborosan besar.

Angka-angka yang diperoleh dari U.S. Department of Agriculture menunjukkan bahwa setiap enambelas pon padi-padian yang diberikan kepada hewan ternak, sebagai gantinya kita hanya mendapatkan satu pon daging.

Dalam ‘Diet for a Small Planet’, Frances Moore Lappe meminta kita untuk membayangkan diri kita duduk menghadapi satu daging steak dengan berat delapan ons. “Kemudian bayangkan dalam ruangan itu terdapat 45 sampai 50 orang dengan piring kosong di hadapan mereka. Sebagai ganti ‘nilai makanan’ dari daging steak tersebut, setiap piring tersebut dapat tersisi penuh dengan sereal yang dimasak.

Negara-negara kaya tidak hanya menyia-nyiakan tanaman padi mereka untuk makanan ternak. Mereka juga menggunakan bahan makanan dari tumbuhan yang kaya protein dari negara-negara miskin. Dr. Georg Borgstrom, seorang ahli tentang geografi makanan, memperkirakan bahwa se-pertiga dari hasil panen kacang di Afrika (kacang memberikan jumlah protein yang sama dengan daging) berakhir di perut-perut hewan ternak dan unggas di Western Europe.

Di negara-negara terbelakang, seseorang mengkonsumsi rata-rata empat ratus pon padi setiap tahunnya, kebanyakan darinya langsung dikonsumsi. Sebaliknya, kata ahli makanan sedunia Lester Brown, rata-rata orang Eropa atau Amerika mengkonsumsi du ribu pon per tahunnya, dengan cara pertama-tama menjadikannya makanan hewan sebanyak hampir sembilan puluh persen yang mana kemudian menjadi daging. Rata-rata pemakan daging di Eropa atau Amerika, kata Brown, menggunakan sumber-sumber makanan lima kali lebih banyak dari rata-rata orang Kolombia, Indian, atau Nigeria.

Fakta-fakta seperti ini telah membimbing para ahli makanan dalam menentukan bahwa permasalahan kelaparan dunia bersifat dibuat-buat. Bahkan sekarang ini kita sudah memproduksi makanan lebih dari cukup untuk semua orang di dunia ini – akan tetapi kita memberikannya dengan sia-sia.

Ahli nutrisi dari Harvard, Jean Mayer, mengkalkulasikan bahwa dengan mengurangi produksi daging hanya sepuluh persen akan menyediakan cukup padi-padian untuk memberikan makan enam puluh juta orang.

Akibat lain dari mengkonsumsi daging yakni degradasi lingkungan. Luapan limbah yang sangat terkontaminasi dari rumah-rumah penjagalan dan peternakan merupakan sumber-sumber polusi bagi sungai-sungai dan aliran-aliran. Semakin jelas bahwa sumber-sumber air segar di planet ini tidak saja terkontaminasi tetapi juga terkuras, dan perusahaan daging sangat boros. Georg Borgstrom mengatakan bahwa produksi hewan ternak menghasilkan polusi sepuluh kali lipat lebih banyak dari wilayah-wilayah pemukiman, dan tiga kali lebih besar dari industri.

Dalam buku mereka berjudul Population, Resources, dan Environment, Paul dan Anne Ehrlich menunjukkan bahwa untuk menanam satu pon gandum hanya dibutuhkan enampuluh pon air, sedangkan produksi satu pon daging membutuhkan sekitar 2,5000 sampai 6,000 pon air.

Dan pada tahun 1973, the New York Post mengungkapkan suatu berita yang menggemparkan tentang penyalah-gunaan sumber alam yang paling berharga ini – salah satu industri pemotongan ayam di Amerika mennggunakan seratus juta galon air per hari, suatu jumlah yang mana dapat mencukupi sebuah kota dengan duapuluh lima ribu penduduknya.

Akan tetapi sekarang coba kita beralih dari situasi geo-politik dunia, dan langsung ke buku saku kita. Suatu pengecekan acak terhadap swalayan-swalayan di New York pada bulan Januari 1986 menunjukkan bahwa ‘sirloin steak’ berharga sekitar empat dolar per pon, sedangkan bahan-bahan untuk menu vegetarian yang banyak dan lezat berkisar dua dolar per pon.

Satu kaleng/kotak keju-susu dengan harga enam puluh cent menyediakan enam puluh persen kebutuhan minimum protein per hari. Dengan menjadi seorang vegetarian anda dapat berhemat setidaknya beberapa ribu dolar per tahun, puluhan ribu dolar selama masa hidup. Simpanan bagi para konsumen di Amerika dapat berjumlah milyaran dolar setiap tahunnya. Dan prinsip yang sama berlaku bagi semua konsumen di seluruh dunia. Bayangkan semua ini, tidaklah sulit bagi seseorang untuk menjadi seorang vegetarian.

Etika

Banyak orang mempertimbangkan alasan-alasan moral yang paling penting dari segalanya untuk menjadi seorang vegetarian. Awal dari vegetarianisme yang bermoral merupakan pemahaman bahwa mahluk lainnya mempunyai perasaan, dan bahwa perasaan mereka sama dengan perasaan kita. Pemahaman ini mendorong seseorang menambah kesadaran pribadi dalam meliputi penderitaan yang lainnya.

Dalam suatu artikel berjudul The Ethics of Vegetarianism, dari majalah North American Vegetarian Society, konsep “humane animal slaughter” ditentang. “banyak orang sekarang ini telah terlena dengan suatu kepuasan dalam berpikir bahwa binatang dibunuh ‘secara prikemanusiaan’, dengan demikian menghilangkan setiap keraguan untuk mengkonsumsi daging. Sayangnya, tidak ada yang melebihi kenyataan akan hidup…. dan mati.

Keseluruhan hidup dari ‘hewan konsumsi’ yang dikandangkan merupakan suatu pemeliharaan yang tidak normal, pengebirian yang kejam dan/atau stimulasi hormon, konsumsi menu yang tidak wajar untuk maksud-maksud penggemukan, dan pada akhirnya perjalanan yang panjang dalam kesulitan yang mendalam ke arah pencapaian terakhir. Pulpen-pulpen, penyodok elektrik, dan pelintiran ekor binatang, teror dan ketakutan yang menyedihkan, semua ini masih merupakan bagian dari pengembang-biakan, perdagangan dan pembunuhan hewan yang paling moderen. Untuk menerima semua ini dan menentang kebrutalan terhadap kehidupan hewan, yaitu meniadakan kata ‘humane’ (prikemanusiaan).

Fakta dari pembunuhan hewan sangatlah tidak menyenangkan – rumah-rumah jagal nampak seperti neraka. Hewan-hewan yang mengerang dibuat pingsan dengan hantaman palu, kejutan listrik, atau alat-alat pemukul. Mereka tarik keatas dengan kaki mereka dan dipindahkan dengan alat-alat pemindah otomatis. Masih dalam keadaan hidup, leher mereka disembelih dan daging mereka dipotong sementara mereka berdarah sampai mati. Mengapa pemusnahan dan penyembelihan hewan ternak tidak diatur oleh ketentuan yang sama terhadap kesejahteraan hewan-hewan piaraan dan bahwan tikus laboratorium?

Banyak orang mungkin tidak akan ragu menjadi vegetarian jika meraka mengunjungi sebuah rumah jagal, atau mereka sendiri harus membunuh hewan yang mereka konsumsi. Kunjungan seperti itu seharusnya wajig bagi semua pemakan daging.

Pythagoras, terkenal dengan kontribusinya terhadap ilmu geometrik dan matematik, mengatakan, “Oh, saudara-saudaraku, janganlah merusak tubuhmu dengan makanan-makanan yang buruk. Kita memiliki jagung, kita mempunyai buah apel yang bergelantungan dengan beratnya, dan anggur yang besar di pohonnya. Ada tumbuh-tumbuhan dengan rasa manis, dan sayur-sayuran yang dapat dimasak and direbus dengan api, juga susu atau madu yang harum. Bumi memberikan persediaan makanan alami yang berlimpah, dan memberikan kalian perjamuan yang tidak melibatkan pertumpahan darah atau pembunuhan; hanya mahluk buas yang memuaskan rasa lapar mereka dengan daging, dan tidak hanya itu, oleh karena kuda, sapi dan domba hidup dari rumput.

Dalam suatu artikel berjudul On Eating Flesh, penulis berkebangsaan Roma, Plutarch, menulis: “Dapatkah anda bertanya apa alasan Pitagoras tidak mengkonsumsi daging? Saya sendiri lebih cenderung memikirkan kejadian apa dan dalam pertimbangan apa manusia pertama menyantap daging dari mahluk yang sudah mati, mempersembahkan jamuan tubuh-tubuh yasudah mati dan kaku, dan berani menyebut sebagai makanan dan gizi dari bagian-bagian yang sebelumnya meraung dan mengerang, bergerak dan hidup……… Yang pastinya bukanlah singa atau srigala yang kita santap, namun sebaliknya, kita mengabaikan mereka dan membunuh mahluk-mahluk yang jinak dan tidak berbahaya bagi kita. Demi hanya untuk sepotong daging kita menghalangi mereka dari matahari, cahaya, keberlangsungan hidup mereka yang sudah seharusnya mereka dapatkan dengan kelahiran dan kehidupan”.

Kemudian Plutarch menyampaikan tantangan ini kepada para penyantap daging: “Jika anda menyatakan bahwa secara alami anda diharuskan menyantap makanan tersebut, maka pertama-tama bunuh sendiri makanan yang anda hendak makan. Akan tetapi lakukanlah dengan cara anda sendiri, tanpa dibantu dengan belati atau pentungan atau segala jenis kampak.”

Penulis puisi, Shelly, adalah seorang vegetarian yang loyal. Dalam artikelnya ‘A Vindication of Natural Diet’ dia menuliskan, “Biarkan pendukung makanan hewani membawa dirinya sendiri kepada suatu eksperimen yang menentukan tentang kesehatannya, dan sebagaimana disarankan Plutarch, mengoyak seekor anak domba dengan giginya, memuaskan dahaganya dengan darah yang mendidih……maka dia akan menjadi konsisten”.

Leo Tolstoy menulis bahwa dengan membunuh binatang untuk makanan, “Manusia menindas dirinya sendiri, yang tidak semestinya, posisi spirituak tertinggi – yang mana simpati dan rasa kasihan terhadap mahluk hidup seperti dirinya sendiri – dan dengan menodai perasaannya menjadikannya seorang yang kejam”. Dia juga mengingatkan, “Selama tubuh kita merupakan kuburan yang hidup dari hewan-hewan yang dibunuh, bagiamana mungkin kita mengharapkan kondisi yang baik di atas bumi ini?”

Ketika kita tidak lagi menghargai kehidupan binatang, kita juga kehilangan penghargaan terhadap kehidupan. Dua ribu enam ratus tahun yang lalu, Pitagoras mengatakan, “Mereka yang membunuh binatang untuk menyantap dagingnya cenderung membunuh diri mereka sendiri”. Kita merasa takut akan senjata musuh, bom, dan rudal, tetapi kita menutup mata terhadap penderitaan dan ketakutan yang kita sebabkan dengan membunuh, untuk santapan manusia, lebih dari 1.6 milyar mamalia piaraan dan 22.5 milyar uanggas tiap tahunnya. Jumlah ikan yang dibunuh tiap tahunnya berjumlah trilyunan. Dan berbicara tentang puluhan juta binatang dibunuh tiap tahunnya di “kamp-kamp penyiksaan” dari laboratorium-laboratorium riset medis, atau yang dibunuh untuk bulu atau kulit mereka atau yang diburu untuk “sport”. Dapatkah kita menyangkal bahwa kebrutalan ini juga membuat kita lebih brutal?

Leonardo Da Vinci menuliskan, “Sungguh manusia adalah raja dari mahluk buas, oleh karena kebrutalannya melebihi dari mereka. Kita hidup di atas kematian yang lainnya. Kita adalah tempat kuburan!”. Dia menambahkan, “Saatnya akan tiba dimana manusia akan menilai pembunuhan atas binatang sama dengan pembunuhan terhadap manusia”.

Mahatma Gandhi merasa bahwa prinsip-prinsip moral merupakan pendukung yang lebih kuat untuk suatu komitmen yang permanen terhadap menu vegetraian dibandingkan dengan alasn-alasan kesehatan. “ Saya benar-benar percaya bahwa peningkatan spiritual pada tahap tertentu menuntut kita untuk berhenti membunuh mahluk lainnya demi memuaskan keiniginan-keiniginan tubuh kita”. Dia juga mengatakan, “Kejayaan suatu bangsa dan peningkatan moralitasnya dapat nilai dari perlakuannya terhadap binatang”.

Agama

Semua naskah agama besar memerintahkan manusia untuk hidup tanpa harus membunuh. Kita Suci Perjanjian Lama memberi perintah, “Jangan membunuh”. (Kitab Keluaran 20:13). Ini biasanya diinterpretasikan sebagai pembunuhan. Akan tetapi bahasa Ibrani aslinya yakni ‘lo tirtzach’, yang dengan jelas berarti “Jangan membunuh”. Kamus Lengkap Bahasa Ibrani/Inggris Dr. Reuben Alcalay mengatakan bahwa kata ‘tirtzach’, khususnya dalam pemakaian Bahasa Ibrani yang klasik, mengacu kepada “segala bentuk pembunuhan”, dan tidak harus pembunuhan seorang manusia.

Meskipun Kitab Suci Perjanjian Lama mengandung resep makan, jelas bahwa kondisi yang cocok adalah vegetarisme. Dalam Kitab Kejadian (1:29), “Lihatlah, Aku telah memberikan kepadamu tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah akan menjadi makananmu”. Dan dalam buku-buku Kitab Suci selanjutnya, para nabi besar melarang penyantapan daging.

Bagi kebanyakan orang Kristen, penghalang utama yakni kepercayaan bahwa Yesus Kristus menyantap daging dan banyaknya acuan sehubungan dengan penyantapan daging dalam Kitab Perjanjian Baru. Akan tetapi penelitian yang teliti terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani menunjukkan bahwa pada umumnya kata-kata yang diterjemahkan sebagai “daging” yaitu ‘thrope’, ‘brome’, dan kata lainnya yang bermakna “makanan” atau “memakan” dalam arti luas. Contohnya, Injil Lukas (8:55) tertulis bahwa Yesus membangkitkan seorang wanita dari kematiannya dan “memerintah memberikannya makanan”. Kata berbahasa Yunani asli yang artikan “daging” yaitu ‘phago’, yang secara khusus berarti “memakan”. Kata berbahasa Yunani untuk daging yaitu ‘kreas’ (‘flesh’), dan kata ini tidak pernah digunakan sehubungan dengan Yesus Kristus. Tidak ada dimanapun dalam Kitab Perjanjian Baru mengacu secara langsung dalam halnya Yesus Kristus menyantap daging. Ini sesuai dengan nubuat nabi Yesaya yang terkenal tentang kedatangan Yesus Kristus, “Sesungguhnya, seorang perawan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik”.

Dalam ‘Thus Spake Muhammed (terjemahan Hadith oleh Dr. M. Hafiz Syed), pengikut nabi Muhammad bertanya kepadanya, “Sesungguhnya, apakah ada imbalan untuk melakukan hal baik kepada hewan, dan memberikan mereka minum?”. Muhammad menjawab, “Ada imbalan dalam menolong hewan”.

Sang Budha secara khusus terkenal dengan ajarannya menentang pembunuhan binatang. Dia menetapkan ahimsa (anti-kekerasan) dan vegetarianisme sebagai langkah awal menuju kesadaran pribadi dan mengekspresikan kedua ungkapan berikut ini, “Janganlah menyembelih lembu yang membajak ladang kalian sendiri,” dan “Janganlah biarkan kerakusan yang melibatkan pembunuhan binatang”25.

Kitab Weda dari India, yang mendahalui jaman Budha, juga menekankan anti-kekerasaan sebagai dasar moral vegetarianisme. “Tidak ada daging yang diperoleh tanpa menyakiti mahluk hidup”, kata Manu-samshita, hukum India kuno, “Oleh karena itu biarkan seseorang menjauhkan diri dari pemakaian daging”. Pada bagian yang lain, Manu-samshita memperingatkan, “Setelah dengan baik mempertimbangkan sumber daging yang memuakkan dan kekejaman dalam membelenggu dan membantai mahluk hidup, biarkan seseorang berpantang menyantap daging secara total”. Dalam Mahabrata (puisi epik yang mengandung 100,000 sanjak dan dikatakan puisi terpanjang di dunia), terdapat banyak larangan terhadap pembunuhan binatang: “Mereka yang berhasrat menambah daging mereka dengan menyantap daging mahluk lainnya dalam kesengsaraan spesis manapun dapat membunuh dirinya sendiri”; “Adakah yang lebih kejam dan egois dari seseorang yang menambah dagingnya sendiri dengan menyantap daging hewan yang tidak berdosa?”; dan “Mereka yang berhasrat memiliki daya ingat yang baik, kecantikan, umur panjang dengan kesehatan yang sempurna, kekuatan fisik, moral dan spiritual, harus berpantang memakan daging binatang”.

Setiap mahluk memiliki jiwa. Dalam Bagawat-gita, Khrisna menggambarkan jiwa sebagai sumber kesadaran dan sumber hidup yang mengaktifkan tubuh setiap mahluk hidup. Menurut Kitab Suci Weda, suatu jiwa dalam bentuk yang lebih rendah dari manusia secara otomatis berkembang ke arah spesis berikutanya yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mencapai bentuk manusia. Hanya dalam bentuk kehidupan manusia, jiwa tersebut dapat memusatkan kesadarannya kepada Tuhan dan pada saat kematiannya dipindahkan kembali ke dunia spiritual. Baik dalam tingkatan sosial maupun universal, setiap manusia harus mematuhi hukum.

Dalam makna Srimad-Bhagavatamnya, Srila Prabhupada mengatakan, “Semua mahluk hidup harus memenuhi suatu masa waktu yang terikat dalam suatu bentuk jasad tertentu. Mereka harus menyelesaikan masa waktu tersebut yang ditentukan suatu jasad tertentu sebelum dipromosikan atau ditingkatkan ke jasad lainnya. Membunuh binatang atau mahluk hidup lainnya sesungguhnya hanya menghalangi penyelesaian masa waktunya dalam jasad tersebut.

Dengan demikian seseorang tidak seharusnya membunuh mahluk hidup lainnya demi kesenangannya, oleh karena hanya akan melibatkan seseorang dalam perbuatan dosa. “Singkatnya, membunuh binatang mengahalangi perkembangan melalui spesis-spesis, dan pembunuh tersebut selalu mengalami penderitaan atas perbuatan dosanya tersebut.

Dalam Bagawat-gita (5.8), Khrisna menjelaskan bahwa kesempurnaan spiritual mulai ketika seseorang dapat melihat kesamaan semua mahluk hidup, “Orang bijaksana yang rendah diri, dengan pengetahuan yang murni, melihat dengan pandangan yang sama seorang brahmana (pendeta) yang terpelajar, seekor lembu, seekor gajah, seekor anjing, dan ‘dog-eater’ (tidak berkasta)”. Khrisna juga memerintahkan kita untuk menerapkan prinsip-prinsip vegetarianisme yang spiritual ketika Dia berkata, “Berikan saya cinta dan devosi dengan buah, bunga, daun, air, maka saya akan menerimanya”.

Karma

Kata karma yang berasal dari Sanskerta berarti “tindakan”, atau lebih khususnya setiap tindakan fisik yang menyebabkan reaksi yang mengikat kita dengan dunia nyata. Meskipun konsep karma umumnya berkaitan dengan filosofi Timur, banyak orang di negara Barat mulai memahami bahwa karma adalah prinsip dasar, sama seperti waktu dan gravitasi, dan juga bersifat takdir. Untuk setiap tindakan pasti ada reaksi. Menurut hukum karma, jika kita menyebabkan rasa sakit dan penderitaan kepada mahluk hidup lainnya, kita harus juga mengalami rasa sakit dan penderitaan, baik secara individu maupun kolektif. Kita menuai apa yang kita tabur, pada kehidupan sekarang dan yang akan datang, karena alam memepunyai keadilannya sendiri. Tidak seorangpun dapat bebas dari karma, kecuali mereka yang mengetahui caranya.

Untuk mengerti bagaimana karma dapat menyebabkan perang, sebagai contoh kita ambil sebuah ilusrtasi dari Kitab Weda. Kadangkala suatu kebakaran berasal dari hutan bambu ketika pohon-pohonya saling bergesekan. Bagaimanapun juga penyebab yang sebenarnya bukanlah pohon-pohon tersebut akan tetapi angin yang menggerakkan mereka. Pohon-pohon tersebut hanya merupakan alat. Sama halnya dengan prinsip karma yang menyatakan kepada kita bahwa Amerika Serikat dan ni Soviet bukanlah penyebab utama ketegangan antara mereka, ketegangan yang memulai perang nuklir. Penyebab utamanya adalah karma yang sulit diramalkan disebabkan oleh penduduk dunia yang nampaknya tidak berdosa.

Menurut hukum karma, supermarket atau tempat penjualan hamburger di sekitar kita (juga termasuk klinik aborsi setempat, akan tetapi dalam konteks yang lain) lebih banyak kaitannya dengan ancaman perang nuklir dari pada Gedung Putih atau Kremlin. Kita ketakutan dengan kemungkinan perang nuklir sementara kita membiarkan pembantaian yang sama menakutkan setiap harinya di dalam tempat penjagalan hewan di seluruh dunia.

Orang yang menyantap daging hewan mungkin mengatakan bahwa dia tidak melakukan pembunuhan apapun, tetapi ketika dia membeli daging yang sudah dipaketkan maka dia membayar orang lain untuk membunuh, dan keduanya menyebabkan reaksi karma atas diri mereka sendiri. Bukankah bersifat munafik memperjuangkan perdamaian kemudian pergi ke MacDonald untuk menyantap hamburger atau pulang untuk memanggang daging? Ini merupakan suatu kepura-puraan yang mana ditentang oleh George Bernard Shaw:

Kita berdoa pada setiap hari Minggu supaya kita mendapat penerangan

Yang menuntun lanngkah kita di jalan yang kita lalui;

Kita muak akan peperangan, kita tidak ingin berperang,

Namun kita sendiri menyantap yang sudah mati

Sebagaimana dikatakan oleh Srila Prabhupada dalam penjelasannya tentang Bagawat-gita, “Mereka yang membunuh binatang dan menyebabkna mereka menderita – sebagaimana yang dilakukan orang-orang di rumah penjagalan – akan dibunuh dengan cara yang sama pada kehidupan berikutnya dan pada banyak kehidupan yang akan datang…………. Dalam naskah-naskah Kristen-Yahudi, dengan tegas dikatakan “Jangan membunuh”. Akan tetapi, dengan berbagai alasan, bahkan para pemimpin agama membiarkan pembunuhan binatang dan, pada saat yang sama, mencoba menjadi seorang yang kudus. Contoh yang tidak layak ini dan kepura-puraan dalam masyarakat menyebabkan bencana yang tidak ada habisnya seperti perang-perang besar, dimana kelompok besar orang pergi berperang dan saling membunuh. Sekarang ini mereka menghadapi bom atom, yang menunggu dipergunakan untuk perusakan yang sangat luas”. Ini merupakan akibat dari karma.

Mereka yang mengerti hukum karma, menyadari bahwa perdamaian tidak akan datang dari parade militer dan permohonan-permohonan, tetapi lebih baik membuat suatu kampanye untuk mengajari orang tentang konsekuensi-konskuensi dari pembunuhan binatang (dan bayi-bayi yang digugurkan). Akan memakan waktu yang lama untuk mencegah meningkatnya permasalahan dunia, oleh karena itu kita membutuhkan orang-orang dengan kesadaran yang murni untuk memahami bahwa permasalahan yang sebenarnya bersifat spiritual. Orang-orang yang berdosa akan selalu ada, tetapi mereka seharusnya tidak menempati posisi-posisi kepemimpinan.

Salah satu dari keberatan umum dari orang kaum non-vegetarian terhadap kaum vegeratarian yaitu bahwa kaum vegeratian tetap saja harus membunuh tumbuhan, dan itu juga merupakan suatu pelanggaraan. Jawabannya mungkin dapat ditekankan bahwa makanan-makanan vegetarian seperti buah-buah yang sudah masak dan sayur-sayuran, kacang-kacangan, padi-padian, dan susu tidak mengharuskan pembunuhan. Bahkan dalam kasus dimana kehidupan suatu tumbuhan di ambil, oleh karena tumbuhan memiliki kesadaran berkembang yang lebih sedikit dibandingkan dengan binatang, kita dapat menyimpulkan bahwa penderitaannya jauh lebih sedikit dibandingkan bilamana seekor binatang dibunuh, mengenai penderitaan yang dialami oleh hewan potong selama hidupnya.

Memang benar bahwa kaum vegetarian harus membunuh tumbuhan, dan itu merupakan pelnggraan, akan tetapi kita harus makan, dan Kitab Weda mengatakan, ‘jivo jivasya jivanam’: suatu mahluk hidup adalah makanan untuk yang lainnya untuk mempertahankan hidupnya. Jadi permasalahannya bukannya bagaimana menghindari pembunuhan secara keseluruhan – suatu rekomendasi yang mustahil – tetapi bagaimana menghentikan penderitaan terhadap mahluk hidup lainnya yang pada saat yang sama mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh.

Penghilangan nyawa, bahkan terhadap tumbuhan, tentu saja dosa, tetapi Khrisna, sang pengatur tertinggi, membebaskan kita dari dosa dengan menerima apa yang kita persembahkan. Memakan makanan yang awalnya dipersembahkan kepada Tuhan sama halnya seperti seorang prajurit yang gugur dalam peperangan. Dalam suatu peperangan, ketika pemimpin pasukan memberi perintah untuk menyerang, seorang prajurit yang patuh yang membunuh musuhnya akan mendapatkan penghargaan. Tetapi jika prajurit yang sama membunuh sesama prajuritnya, dia akan dihukum. Ini ditegaskan dalam Bagawat-gita (3.13) “Pengabdi Tuhan dibebaskan dari semua dosa karena mereka memakan makanan yang terlebih dahulu dipersembahkan untuk korban. Yang lainnya, yang menyiapkan makanan untuk kesenangan pribadi, hanya memakan dosa”. Hal ini membawa kita kepada tema inti dari buku ini: vegetarianisme, meskipun esensinya bukanlah suatu akhir padanya.

Di luar Vegetarian

Terlepas dari masalah kesehatan, ekonomi, etika, agama, dan bahkan karma, vegetarianisme memiliki dimensi spiritual yang lebih tinggi yang dapat menolong kita mengembangkan apresiasi alami kita kasih sayang dari Tuhan. Srila Prabhupada mengatakan kepada kita dalam penjelasan Srimad-Bhagavatamnya, “Manusia dirancang untuk memahami diri sendiri, dan oleh karena itu mereka tidak seharusnya makan makanan yang tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan menerima semua jenis persembahan makanan dari sayur-sayuran, buah-buahan, produk susu, dan padi-padian dari para pengabdiNya. Bermacam-macam sayuran, buah-buahan, dan produk susu, dan padia-padian dapat dipersembahkan kepada Tuhan, dan setelah Tuhan menerima persembahan makanan itu, para pengabdi dapat mengambil bagian dalam ‘prasada’, yang mana semua pendertiaan dalam mempertahankan hidup akan dihilangkan”.

Sang Khrisna Sendiri menegaskan keabadian ‘prasada’ ketika Dia tampil ke dunia ini sebagai Sri Chaitanya Mahaprabhu 500 tahun yang lalu: “Setiap orang yang sebelumnya telah merasakan bahan materialistik tersebut, akan tetapi sekarang, bahan yang sama ini mengandung rasa dan harum yang yang luar biasa. Rasakanlah dan lihatlah perbedaannya. Tidak hanya rasanya, harumnya mendamaikan pikiran kita dan bahwa bahan-bahan yang biasa ini telah dicicipi oleh bibir Sang Krhisna dan diilhami oleh karakter Sang Khrisna”.

Makanan persembahan, umumya disebut ‘prasada’, “kemurahan Tuhan”, menawarkan tidak hanya hidup yang sehat, tapi juga pemahaman akan Tuhan; bukan hanya sekedar makanan bagi orang banyak yang lapar, akan tetapi makanan rohani bagi setiap orang. Ketika Khrisna menerima suatu persembahan, Dia memasukkan karakter keabadianNya sendiri ke dalamnya. Dengan demikian ‘Prasada’ identik dengan Sang Khrisna Sendiri. Terlepas dari kemurahannya yang tidak berbatas terhadap jiwa-jiwa yang terkurung dalam dunia nyata, Khrisna hadir dalam bentuk ‘prasada’, sehingga dengan hanya memakannya, kita dapat mengenalNya.

Mengkonsumsi prasada berarti memberi makanan rohani kepada tubuh. Dengan menyantap prasada tidak hanya dosa masa lalu yang ada dalam tubuh yang dihancurkan, tapi tubuh juga kebal terhadap kontaminasi materialisme. Sama halnya seperti vaksin antiseptik yang dapat melindungi kita terhadap penyakit menular, menyantap ‘prasada’ melindungi kita dari ilusi dan pengaruh konsep hidup yang materialistik. Oleh karena itu seseorang yang menyantap makanan yang dipersembahkan kepada Khrisna, dapat menghadapi semua akibat dari kegiatan dunianya pada masa lalu, dan siap dan siap mengalami peningkatan dalam pemahaman pribadi.

Oleh karena Sang Khrisna membebaskan kita dari akibat-akibat karma, atau aktifitas duniawi, dengan mudah kita dapat melewati ilusi dan melayani Nya dalam pengabdian. Seseorang yang bertindak tanpa karma dapat menyatukan pemahaman dengan Tuhan dan selalu waspada akan kehadiran kepribadianNya. Inilah manfaat yang sebenarnya dari ‘prasada’.

Seseorang yang menyantap ‘prasada’ sebetulnya sedang memberikan pengabdiannya kepada Tuhan dan pasti mendapatkan karunianya. Srila Prabhupada sering mengatakan bahwa dengan menyantap ‘prasada’ walaupun cuma sekali kita dapat terlepas dari siklus kelahiran dan kematian, dan hanya dengan menyantap ‘prasada’ seorang yang paling berdosapun dapat menjadi suci. Naskah-naskah Weda berbicara tentang banyak orang yang hidupnya dirubah dengan menyantap ‘prasada’, dan setiap pengabdi Hare Khrisna akan menjamin kekuatan spiritual ‘prasada’ dan efeknya terhadap kehidupannya.

Menyantap makanan yang hanya dipersembahkan kepada Krishna adalah penyelesaian akhir dari menu vegetarian. Meskipun demikian, burung merpati dan kera juga vegetarian, dengan demikian menjadi seorang vegetarian bukanlah yang terutama dari pencapaian. Kitab Weda menyampaikan kepada kita bahwa tujuan dari kehidupan manusia yaitu untuk membangkitkan kembali jiwa dalam hubungannya dengan Tuhan, dan hanya bilamana kita melampaui vegetarianisme ke tingkat ‘prasada’ maka apa yang kita makan akan sangat membantu dalam mencapai tujuan tersebut. *

Carnivora

Herbivora

Manusia

1

Berkuku tajam untuk mencakar.

Tidak mencakar.

Tidak mencakar.

2

Kulit tidak berpori, keringat melalui lidah.

Berkeringat melalui pori kulit.

Berkeringat melalui pori kulit.

3

Gigi depan tajam, untuk merobek daging.

Gigi depan tidak tajam.

Gigi depan tidak tajam.

4

Kelenjar liur di mulut kecil, tidak dibutuhkan untuk mencerna makanan pendahuluan.

Kelenjar ludah berkembang sempurna.

Kelenjar ludah berkembang sempurna.

5

Liur bersifat asam, tidak ada enzim ptyalin.

Air liur bersifat alkali, banyak enzim ptyalin.

Air liur bersifat alkali, banyak enzim ptyalin.

6

Tidak bergigi geraham

Bergigi geraham

Bergigi geraham

7

Asam klorida (HCl) lambung keras, banyak.

Asam lambung 1/20 kali dari pemakan daging.

Asam lambung 1/20 kali dari pemakan daging.

8

Panjang usus 3 x panjang badan, makanan cepat keluar.

Panjang usus 10-12 X panjang badan.

Panjang usus 10-12 X panjang badan.

9

Lidah panjang menjulur.

Lidahnya pendek

Lidahnya pendek

10

Minum air dengan menjilatkan lidahnya.

Minum dengan mengisap.

Minum dengan mengisap.

11

Gerakan rahang, nauk- turun.

Gerakan rahang bisa naik-turun dan kesamping.

Gerakan rahang bisa naik-turun dan kesamping.

Blog Archive